Menjelang 1 Muharram 1447 Hijriah

Sebentar umat Islam di seluruh dunia akan memasuki tahun baru dalam kalender Hijriah, 1 Muharram 1447 H. Momen ini bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, tapi menjadi saat yang tepat untuk merenung, mengevaluasi, dan memperbaiki diri. Dalam kesibukan kehidupan modern yang serba cepat, tahun baru Hijriah mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya, sudah sejauh mana kita menjalani hidup dalam petunjuk Allah? Ini adalah waktu untuk menyusun niat dan langkah baru yang lebih baik. Bukan dengan pesta dan kemewahan, melainkan dengan perenungan dan peningkatan keimanan.

Hijrah, sebagai inti dari penanggalan Hijriah, bukan hanya berarti berpindah tempat seperti Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dari maksiat menuju taubat. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ, “Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari) (Referensi: https://fcep.uii.ac.id/blog/menjaga-lisan/). Maka, tahun baru Hijriah seharusnya menjadi titik balik untuk lebih dekat dengan Allah, memperbaiki ibadah, dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama.

Di antara keutamaan bulan Muharram adalah bahwa ia termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Inna ‘iddatasy-syuhụri ‘indallāhiṡnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍa min-hā arba’atun ḥurum, żālikad-dīnul-qayyimu fa lā taẓlimụ fīhinna anfusakum wa qātilul-musyrikīna kāffatang kamā yuqātilụnakum kāffah, wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Surat At-Taubah:36)
(Referensi: https://tafsirweb.com/3052-surat-at-taubah-ayat-36.html)


Bulan-bulan haram ini termasuk Muharram, dan umat Islam dianjurkan untuk menjauhi dosa serta memperbanyak amal saleh di dalamnya. Ini adalah saat yang baik untuk menata kembali hati dan niat kita.

Bulan Muharram juga memiliki keistimewaan sebagai bulan penuh pahala, khususnya dengan ibadah puasa. Nabi Muhammad ﷺ  menganjurkan puasa Asyura (10 Muharram) karena bisa menghapus dosa setahun yang lalu. Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tiba di Madinah, Beliau mendapatkan mereka (orang Yahudi) malaksanakan shaum hari ‘Asyura (10 Muharam) dan mereka berkata; “Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Lalu Nabi Musa ‘Alaihissalam mempuasainya sebagai wujud syukur kepada Allah”. Maka Beliau bersabda: “Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding mereka”. Maka Beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummat Beliau untuk mempuasainya (HR. Bukhari). (Referensi: https://muhammadiyah.or.id/2021/08/puasa-asyura-dalam-riwayat-hadits-ibnu-abbas-dan-aisyah-ra/)

Abdullah bin Abbas Ra berkata saat Rasulullah Saw berpuasa pada hari Asyura dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah Saw bersabda: “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).” Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah Saw wafat (HR. Muslim). (Referensi: https://muhammadiyah.or.id/2023/07/asal-usul-puasa-tasua-dan-asyura/)

Berdasarkan hadis di atas, puasa Tasua yang dilakukan pada 9 Muharram merupakan anjuran tambahan yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai pembedaan dari tradisi kaum Yahudi. Saat orang-orang Yahudi mengagungkan puasa Asyura, Nabi Muhammad mengarahkan umat Muslim untuk berpuasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram. Namun, karena beliau wafat sebelum tahun depan tiba, pelaksanaan puasa Tasua tidak sempat direalisasikan. Meskipun demikian, sunnah Nabi memberikan pengajaran penting tentang kesempurnaan ibadah dan pentingnya mengenang sejarah serta menghormati ajaran agama. (Referensi: https://muhammadiyah.or.id/2023/07/asal-usul-puasa-tasua-dan-asyura/)

Bagi kita yang ingin memulai tahun baru dengan amalan baik, ini bisa menjadi langkah awal yang indah. Sekalipun hanya puasa sehari atau dua hari, tapi dampaknya besar di sisi Allah. Tentu, akan lebih baik jika disertai dengan niat hijrah menuju kebaikan secara menyeluruh.

Mendekati pergantian tahun Hijriah, marilah kita isi waktu dengan introspeksi diri (muhasabah). Apa saja yang sudah kita lakukan selama setahun terakhir? Apakah waktu yang Allah berikan telah kita gunakan untuk berbuat baik, atau justru banyak yang terbuang sia-sia?

Muhasabah bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk menjadi lebih sadar dan bertanggung jawab atas hidup yang kita jalani. Semakin kita mengenal kekurangan diri, semakin besar peluang kita untuk berubah.

Tahun baru Hijriyah juga mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan waktu, dan waktu itu sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan:

(Referensi: https://www.google.com/imgresq=al%20ashr&imgurl=https%3A%2F%2Fcdn.kemenag.go.id%2Fstorage%2Fposts%2F4_3%2Fmid%2F513284.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fkemenag.go.id%2Fnasional%2Fal-ashr-1-3-manusia-rugi-kecuali-yang-beriman-dan-beramal-saleh fc6pro&docid=SKgknlRHmEehNM&tbnid=UmM3dPe2bzf8lM&vet=12ahUKEwiHm4SNyoeOAxW5yzgGHfEIBEsQM3oECFUQAA..i&w=733&h=733&hcb=2&ved=2ahUKEwiHm4SNyoeOAxW5yzgGHfEIBEsQM3oECFUQAA)


Ayat ini mengajarkan bahwa setiap detik yang berlalu harus diisi dengan iman, amal, dan saling menasihati dalam kebaikan. Maka, menyambut Muharram seharusnya membuat kita lebih menghargai waktu dan menata ulang prioritas hidup.

Untuk para pelajar, mahasiswa, dan generasi muda, tahun baru Hijriah adalah kesempatan menata kembali mimpi dan semangat belajar. Jangan hanya sibuk mengejar nilai akademik, tapi juga tanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Islam tidak memisahkan antara ilmu dan iman—keduanya harus berjalan seiring. Jadikan momen ini sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya di mata manusia, tapi juga di hadapan Allah.

Di tengah tantangan hidup yang makin kompleks, mari kita jadikan tahun baru ini sebagai titik tolak untuk saling mendukung. Seperti hijrah Nabi yang tidak dilakukan sendirian, kita juga butuh dukungan teman, keluarga, dan lingkungan yang positif. Saling mendoakan, saling menguatkan, dan saling mengingatkan adalah bentuk hijrah sosial yang sangat dibutuhkan. Kita tidak harus sempurna, tapi kita bisa terus bertumbuh bersama dalam kebaikan.

Akhirnya, menyambut 1 Muharram 1447 Hijriah bukan tentang perayaan besar, tapi tentang membangun kesadaran baru. Kita buka lembaran baru dengan niat yang lurus, hati yang bersih, dan semangat untuk memperbaiki diri. Hidup ini adalah perjalanan yang terus berjalan, dan tahun baru adalah tanda bahwa kita masih diberi kesempatan. Kesempatan untuk lebih taat, lebih peduli, dan lebih bersyukur. Semoga Allah menerima setiap langkah hijrah kita.

Selamat menyambut tahun baru Islam 1447 H. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk berhijrah menuju pribadi yang lebih bertakwa, bermanfaat, dan dicintai oleh Allah dan manusia. Mari kita sambut tahun ini dengan hati yang bersih dan langkah yang penuh harapan.