
Di Persimpangan Kesenian dan Globalisasi
Pendidikan tinggi seni di Indonesia saat ini berada di persimpangan yang menarik: antara kekayaan tradisi lokal yang mendalam dan tuntutan kolaborasi serta kompetisi global yang semakin ketat. Institusi seperti ISI Yogyakarta telah membuktikan keunggulannya dalam melahirkan talenta kreatif. Namun, untuk benar-benar mengukir dampak global dan memenangkan panggung internasional, kita harus berani melangkah lebih jauh dari sekadar menghasilkan karya. Kita perlu menguasai Sintesis Kreatif – yakni kemampuan menyatukan praktik seni yang kuat dengan analisis riset akademik yang mendalam – yang dikomunikasikan secara efektif ke dunia.
Inilah inti dari brand promise yang saya perjuangkan: Kolaborasi Kreatif untuk Masa Depan. Kolaborasi ini tidak hanya bersifat antardosen atau antarprogram studi, melainkan kolaborasi antara esensi keilmuan kita dengan bahasa universal komunikasi global.
Pilar 1: Sintesis Kreatif sebagai Nilai Jual Unik
Di banyak belahan dunia, terdapat dikotomi yang kaku antara praktisi (pembuat film, penari, musisi) dan teoritikus (peneliti, kritikus). Pendidikan tinggi seni Indonesia, khususnya di bidang media seperti Film dan Televisi, memiliki peluang unik untuk menyatukan keduanya.
Sintesis Kreatif berarti:
- Riset Mendasari Karya: Setiap karya film atau pertunjukan diresapi oleh riset yang mendalam, bukan sekadar intuisi.
- Karya Menguji Teori: Proses kreatif digunakan sebagai laboratorium untuk menguji, memvalidasi, dan mengembangkan teori baru.
Posisi saya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang melingkupi pengalaman di bidang media dan riset, menegaskan bahwa model Sintesis Kreatif adalah kunci untuk menghasilkan output yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga kaya secara intelektual dan relevan secara sosial.
Pilar 2: Gerbang Otoritas: Kebutuhan Bahasa Global
Meskipun kualitas riset dan karya seni kita tinggi, dampaknya tetap akan terbatasi jika kita tidak mampu mengomunikasikannya dalam bahasa otoritas global, yaitu Bahasa Inggris. Sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPA) Bahasa, saya melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang strategis.
- Peluang Hibah: Komite penilai hibah internasional dan penerbit jurnal terkemuka sering kali menilai kualitas abstract dan proposal riset sebagai cerminan kualitas riset secara keseluruhan. Keahlian berbahasa yang kuat adalah investasi minimal dengan potensi imbal hasil yang masif.
- Kolaborasi Internasional: Pertukaran ide, kehadiran sebagai visiting professor, atau menjadi keynote speaker di konferensi internasional memerlukan kefasihan dalam menyampaikan gagasan kompleks secara ringkas dan menarik dalam Bahasa Inggris.
UPA Bahasa adalah jembatan institusi yang harus secara aktif dan proaktif memberdayakan seluruh civitas akademika, dari mahasiswa hingga profesor, untuk menguasai soft skill komunikasi global ini.
Pilar 3: Arah Masa Depan: Membangun Jembatan Riset-Industri
Tujuan akhir dari Sintesis Kreatif dan penguasaan komunikasi global bukanlah sekadar meningkatkan peringkat, melainkan menciptakan dampak nyata di industri dan masyarakat.
Masa depan pendidikan tinggi seni, harus secara tegas berorientasi pada:
- Kolaborasi Hyper-Spesifik: Melibatkan dosen dan mahasiswa dalam proyek riset yang didanai industri atau pemerintah yang menghasilkan solusi konkret, bukan hanya laporan akhir.
- Penciptaan Narasi: Menggunakan kekuatan media dan seni untuk mengomunikasikan hasil riset dan gagasan-gagasan visioner, sehingga menjadi thought leader di tingkat nasional.
Dengan fokus pada kolaborasi riset yang didorong oleh standar global, kita menyiapkan praktisi yang bukan hanya mahir berkarya, tetapi juga mahir berpikir strategis.
Menuju Masa Depan Kolaboratif
Kolaborasi Kreatif untuk Masa Depan adalah sebuah komitmen untuk memastikan bahwa ISI Yogyakarta terus menjadi pelopor, tidak hanya dalam tradisi seni, tetapi juga dalam inovasi akademik dan kontribusi global.
Saya mengajak rekan-rekan civitas akademika, mitra industri, dan pemangku kepentingan untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai bagaimana kita dapat secara kolektif meningkatkan standar riset media dan kemampuan komunikasi global kita. Masa depan kita bergantung pada seberapa efektif kita mampu menerjemahkan kekayaan lokal kita ke dalam bahasa yang dipahami dunia.
——————————————————————————————————–
Tulisan ini sebagai refleksi saya setelah satu tahun diberi kepercayaan mengelola UPA Bahasa ISI Yogyakarta.
